Ada satu cabang olahraga yang prestasinya sudah kelewat gila, tapi anehnya jarang jadi bahan obrolan di warung kopi. Bukan bola, bukan bulu tangkis. Panjat tebing — khususnya nomor speed climbing.
Aku ingat betul waktu Agustus 2024, tengah malam, buka siaran Olimpiade Paris sambil setengah ngantuk. Yang muncul di layar dua orang nempel di dinding setinggi 15 meter. Belum sempat aku benerin posisi duduk, lombanya sudah selesai. Lima detik. Serius, lima detik. Dan yang di atas podium paling tinggi itu orang Indonesia: Veddriq Leonardo.
Buat sebagian orang mungkin itu momen lewat begitu saja. Buat aku, itu titik di mana aku sadar kita sudah lama menang di cabang ini dan kebanyakan dari kita nggak ngeh.
Kenapa Speed Climbing Cocok Banget buat Orang Indonesia
Speed climbing itu format paling gampang dimengerti dari semua nomor panjat tebing. Dua atlet, dua jalur yang persis sama di seluruh dunia, tinggi 15 meter, kemiringan 5 derajat. Susunan poin pegangannya sudah baku sejak bertahun-tahun lalu. Siapa yang lebih dulu nyentuh tombol di atas, dia menang. Titik.
Justru karena jalurnya baku itulah cabang ini jadi lahan subur buat kita. Nggak butuh tebing alam spektakuler, nggak butuh salju, nggak butuh fasilitas semahal kolam renang standar internasional. Yang dibutuhkan cuma satu dinding standar, pelatih yang paham biomekanik, dan atlet yang mau ngulang gerakan yang sama ribuan kali sampai jadi refleks.
Dan soal ngulang-ngulang sampai hafal di luar kepala? Kita jago di situ.
Bukan Cuma Modal Otot
Ini yang sering disalahpahami. Orang lihat panjat tebing, mikirnya "pasti butuh badan gede dan lengan segede paha". Padahal nggak.
Rasio kekuatan terhadap berat badan jauh lebih penting daripada massa otot mentah. Atlet speed climbing kelas dunia badannya justru relatif ramping dan padat. Postur orang Indonesia — yang di banyak cabang lain sering jadi keluhan karena kalah tinggi — di sini malah nggak jadi hambatan besar. Yang menentukan itu ledakan tenaga di detik pertama, presisi kaki, dan keberanian ngambil risiko di tengah jalur.
Satu hal lagi yang jarang dibahas: mental. Di babak final, salah pijak sedikit saja langsung gugur. Nggak ada kesempatan kedua, nggak ada set berikutnya kayak di badminton. Menurutku ini justru bagian tersulitnya, dan atlet-atlet kita sudah kebal.
Bukan Keberuntungan Semalam
Kalau kamu pikir medali Paris itu kejutan, coba tengok ke belakang sebentar.
Tahun 2019, Aries Susanti Rahayu jadi perempuan pertama di dunia yang memecah batas 7 detik. Dia sampai dijuluki Spider-Woman di media internasional. Habis itu Kiromal Katibin muncul dan sepanjang 2021–2022 rasanya tiap dia turun lomba rekor dunia patah lagi, patah lagi. Aku sempat mikir orang ini lagi ngeledek fisika.
Lalu ada Desak Made Rita Kusuma Dewi dari Bali yang naik jadi juara dunia di sektor putri. Nama-nama ini muncul bergantian, bukan satu bintang tunggal yang kebetulan lagi bagus musimnya.
Kalau satu orang menang, itu bakat. Kalau lima orang menang bergantian selama satu dekade, itu sistem.
Dan sistem itu tumbuh dari tempat yang nggak glamor sama sekali. Banyak atlet kita mulai dari dinding panjat sekolah, papan latihan sederhana di sanggar daerah, atau klub kampus yang alat-alatnya seadanya. Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Bali — pembinaannya menyebar, nggak cuma numpuk di ibu kota. Itu kekuatan yang sering diremehkan.
Nonton Speed Climbing Itu Ternyata Bikin Nagih
Awalnya aku skeptis. Gimana caranya olahraga yang selesai dalam lima detik bisa seru ditonton?
Ternyata justru di situ letak candunya. Nggak ada waktu buat kamu ngecek HP. Nggak ada jeda iklan di tengah aksi. Satu babak eliminasi bisa selesai dalam waktu yang lebih pendek daripada kamu ngantre kopi. Kamu duduk, jantung ikut deg-degan, terus lega atau kecewa — semuanya dalam hitungan detik.
Tegangnya beda sama nonton bola. Di sepak bola, tim kamu ketinggalan satu gol masih ada 60 menit buat balas. Di sini? Jari meleset sedikit di poin ketiga, tamat. Rasanya kayak nonton adu penalti, tapi setiap ronde.
Pengin Coba Sendiri? Ini Realistisnya
Kabar bagusnya, dinding panjat indoor sekarang sudah gampang ditemukan di kota-kota besar. Kalau kamu penasaran, beberapa hal yang perlu kamu tahu sebelum datang:
- Mulai dari bouldering, bukan speed. Dinding rendah, ada matras tebal, nggak pakai tali. Paling ramah buat pemula dan di sinilah teknik dasarmu kebentuk.
- Sepatu bisa sewa dulu. Jangan buru-buru beli sepatu panjat mahal sebelum tahu kamu bakal lanjut atau nggak.
- Lengan bakal remuk di hari kedua. Ini normal. Yang bikin kaget justru jari — otot jari itu ternyata ada dan ternyata bisa protes keras.
- Jangan andalkan tangan. Kesalahan pemula nomor satu: narik badan pakai tangan doang. Padahal kaki itu mesin utamanya, tangan cuma penyeimbang.
- Ini olahraga sosial. Orang-orang di gym panjat rata-rata santai dan seneng ngasih tips. Nggak ada budaya pamer.
Aku sendiri nyoba pertama kali karena penasaran habis nonton Olimpiade, dan langsung gagal total di jalur paling gampang. Tapi anehnya bukannya malu, malah pengin balik lagi minggu depannya.
PR yang Masih Menganga
Nah, di sini aku mau jujur dan nggak mau sok manis.
Kita raja di nomor speed, tapi di dua nomor lain — boulder dan lead — kita masih jauh dari papan atas dunia. Itu masalah serius, karena format Olimpiade untuk nomor gabungan justru pakai boulder dan lead. Artinya sebagian besar peluang medali panjat tebing di panggung terbesar tetap belum bisa kita sentuh.
Boulder dan lead butuh kreativitas baca jalur, bukan sekadar hafalan. Tiap kompetisi jalurnya beda, harus dibaca dari bawah dalam waktu terbatas, lalu dieksekusi. Ini butuh pembinaan model lain, pelatih dengan pendekatan lain, dan jam terbang di kompetisi internasional yang jauh lebih banyak.
Masalah kedua: regenerasi. Nama-nama yang aku sebut di atas nggak akan muda selamanya. Kalau pipeline atlet muda nggak dijaga, sepuluh tahun lagi kita cuma bisa cerita soal masa jaya. Pola ini sudah pernah kita lihat di cabang lain, dan hasilnya nggak enak buat dikenang.
Masalah ketiga, dan ini yang paling gampang diperbaiki: eksposur. Coba tanya lima orang di sekitarmu siapa peraih emas Olimpiade Indonesia terakhir. Aku berani taruhan sebagian bakal nyebut nama pebulu tangkis. Bukan salah mereka — siarannya memang minim, liputannya sepi, dan sponsor baru rame pas ada medali doang.
Yang Bikin Aku Optimis
Meski PR-nya banyak, aku tetap yakin cabang ini punya masa depan paling cerah di antara semua olahraga kita saat ini.
Alasannya sederhana: biaya masuknya murah, jalurnya standar di seluruh dunia, dan kita sudah punya bukti menang berkali-kali. Bandingkan dengan cabang yang butuh infrastruktur miliaran atau kompetisi berjenjang yang rumit. Panjat tebing cuma butuh dinding, pelatih bagus, dan konsistensi.
Yang kurang tinggal satu: perhatian kita sendiri. Lain kali ada kejuaraan dunia panjat tebing, coba luangkan sepuluh menit buat nonton. Sepuluh menit itu cukup buat lihat belasan babak. Dan kalau kebetulan ada atlet Indonesia yang naik podium, setidaknya kamu tahu namanya sebelum dia jadi trending sehari lalu dilupakan lagi.
Kita punya juara dunia yang jalan di mal tanpa dikenali siapa-siapa. Menurutku itu bukan kesalahan mereka.