Wawasan Poso – Universitas Tadulako (Untad) bergerak cepat menindaklanjuti bentrok antar mahasiswa yang terjadi di lingkungan kampus pada awal pekan ini. Insiden yang melibatkan dua kelompok mahasiswa tersebut sempat menimbulkan kepanikan dan menyebabkan aktivitas akademik terganggu di beberapa fakultas. Pasca keributan itu, pihak kampus memastikan telah membentuk tim khusus guna melakukan pemeriksaan mendalam serta menyiapkan sanksi tegas sesuai aturan yang berlaku.
Rektor: Kampus Tidak Mentolerir Kekerasan dalam Bentuk Apa Pun
Rektor Untad menegaskan bahwa kampus adalah ruang pendidikan yang harus bebas dari tindakan kekerasan. Ia menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut dan menegaskan bahwa pihaknya tidak akan ragu memberikan hukuman bagi siapa pun yang terlibat.
“Kami sangat menyesalkan bentrok yang terjadi. Kami tidak akan mentolerir tindakan anarkis yang merusak citra kampus dan mengganggu proses pendidikan,” tegas rektor dalam konferensi pers resmi.
Pihak rektorat langsung memerintahkan pembentukan Tim Investigasi Internal yang beranggotakan unsur Wakil Rektor, Biro Kemahasiswaan, Satuan Pengamanan Kampus, dan beberapa dosen senior.
Investigasi Mendalam: Mengumpulkan Bukti dan Memeriksa Saksi
Tim investigasi mulai bekerja dengan memeriksa sejumlah mahasiswa yang diduga terlibat, baik sebagai pelaku maupun saksi. Rekaman CCTV di area kampus juga telah diamankan untuk membantu proses identifikasi.
Ketua tim investigasi menyampaikan bahwa pemeriksaan dilakukan secara objektif dan menyeluruh, termasuk menggali faktor pemicu bentrok yang disebut-sebut dipicu oleh kesalahpahaman antara dua organisasi kemahasiswaan.
“Semua pihak akan kami dengar keterangannya. Kami ingin memastikan keputusan yang diambil nanti benar-benar berdasarkan fakta. Kampus memiliki aturan etik dan disiplin yang jelas, dan itu akan menjadi dasar kami,” ujarnya.

Baca juga: Kasus Penculikan Anak, Kapolres Banggai Minta Orangtua Tingkatkan Pengawasan
Sanksi Tegas Menanti Pelaku
Berdasarkan Peraturan Rektor tentang Tata Tertib Mahasiswa, setiap bentuk kekerasan fisik, intimidasi, maupun provokasi yang menyebabkan terganggunya keamanan kampus dapat dikenai sanksi mulai dari peringatan keras, skorsing, hingga drop out (DO) bagi pelaku utama.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan menekankan bahwa pemberian sanksi bukan sekadar hukuman, tetapi juga langkah edukatif agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa kampus bukan arena adu fisik. Mereka adalah calon pemimpin bangsa yang harus mampu menyelesaikan masalah dengan cara-cara intelektual dan dialog,” ungkapnya.
Keamanan Kampus Diperketat
Usai insiden, pihak keamanan kampus meningkatkan pengawasan di beberapa titik rawan. Patroli rutin ditambah, dan mahasiswa diminta mengikuti aktivitas organisasi dengan bijak.
Selain itu, Untad berencana memperkuat sistem keamanan digital dengan menambah CCTV dan memperbarui area penerangan di sekitar fakultas yang menjadi lokasi bentrok.
Upaya Pemulihan dan Mediasi Antar Mahasiswa
Selain penyelidikan, Untad juga merancang langkah pemulihan berupa mediasi antar kelompok mahasiswa yang terlibat. Pendekatan restoratif ini dianggap penting agar suasana kondusif segera kembali dan hubungan antar mahasiswa tetap harmonis.
Beberapa dosen pembina organisasi turut dilibatkan untuk membantu meredam ketegangan serta memberikan pendampingan kepada mahasiswa.
“Kami berharap semua pihak dapat menahan diri dan kembali menjunjung tinggi nilai persaudaraan sebagai sesama civitas akademika,” kata salah satu dosen pembina.
Aktivitas Kampus Berangsur Normal
Meski sempat terhenti sesaat, aktivitas perkuliahan di sebagian besar fakultas kini berangsur normal. Mahasiswa diminta tetap fokus pada kegiatan akademik dan menjauhi provokasi yang berpotensi memicu konflik.
Pihak kampus menegaskan komitmen untuk terus menjaga lingkungan akademik yang aman dan nyaman.





