Wawasan Poso — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong peningkatan kualitas produk industri kecil dan menengah (IKM) melalui kegiatan sosialisasi pentingnya Standar Nasional Indonesia (SNI). Program ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing produk lokal, baik di pasar regional maupun nasional.
Dorong Produk IKM Mampu Bersaing di Pasar Modern
Kegiatan sosialisasi yang melibatkan para pelaku IKM dari berbagai kabupaten/kota di Sulteng itu bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai konsep standar mutu, tata cara sertifikasi SNI, serta pentingnya pelabelan yang sesuai regulasi.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulteng menjelaskan bahwa produk IKM tidak lagi cukup hanya dengan inovasi dan tampilan menarik, melainkan harus memenuhi standar keamanan, kualitas, dan konsistensi produksi.
“SNI adalah paspor produk untuk memasuki pasar yang lebih luas. Tanpa standar, sulit bagi produk IKM menembus toko modern, e-commerce besar, hingga pasar ekspor,” ujarnya.
Atasi Kendala Produksi dan Kualitas
Dalam sesi diskusi, para pelaku IKM juga mengungkap beberapa kendala yang kerap dihadapi dalam memenuhi standar SNI, seperti keterbatasan teknologi produksi, minimnya pengetahuan soal keamanan pangan, hingga kebutuhan pendampingan intensif.
Menanggapi hal itu, Pemprov Sulteng menyatakan siap menyediakan dukungan teknis termasuk:
-
pelatihan perbaikan proses produksi,
-
pengujian laboratorium,
-
pendampingan sertifikasi,
-
serta akses bantuan peralatan.
“Pemerintah tidak hanya meminta pelaku IKM meningkatkan mutu, tetapi juga memberikan fasilitas yang memungkinkan mereka mencapainya,” tambah pejabat tersebut.

Baca juga: Menteri Transmigrasi tinjau lokasi pembangunan kampus patriot di Kabupaten Sigi
Target 2025: IKM Sulteng Masuk Rantai Pasok Nasional
Pemprov Sulteng menetapkan target peningkatan jumlah IKM bersertifikat SNI pada tahun 2025. Langkah ini sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) terkait penguatan sektor industri berbasis sumber daya lokal.
Produk-produk unggulan seperti olahan kakao, kopi, kelor, perikanan, dan berbagai kerajinan diproyeksikan menjadi andalan dalam rantai pasok nasional dan pasar antar-pulau.
“Kita ingin produk IKM Sulteng menjadi pilihan konsumen bukan karena murah, tetapi karena bermutu dan aman,” tegasnya.
Pelaku IKM Sambut Baik, Harapkan Pendampingan Berkelanjutan
Para peserta sosialisasi mengapresiasi upaya Pemprov Sulteng. Mereka menilai kegiatan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya standarisasi mutu bagi keberlanjutan usaha.
“Selama ini kami produksi berdasarkan pengalaman turun-temurun. Dengan pemahaman soal SNI, kami jadi tahu apa saja yang harus diperbaiki agar produk kami tidak kalah bersaing,” kata salah satu pelaku usaha pangan olahan.
Mereka juga berharap pemerintah terus melakukan pendampingan karena proses menuju sertifikasi SNI membutuhkan waktu, biaya, dan konsistensi produksi.
Pemprov Tegaskan Komitmen Meningkatkan Daya Saing Daerah
Di akhir kegiatan, Pemprov Sulteng menegaskan bahwa penerapan SNI bukan sekadar memenuhi aturan, melainkan investasi jangka panjang bagi pelaku IKM dalam membangun merek dan meningkatkan kepercayaan konsumen.
“Jika semua pelaku IKM sadar pentingnya standar, maka produk lokal Sulteng akan semakin kuat, berdaya saing, dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tutupnya.





